Rabu, 18 September 2019

Mawar


Sayup rindu menekan pilu
Dari arahmu yang tak ku harap
Imajinasi ku menguliti hidupku
Seraya menertawai setiap langkahku

Disudut malam dengan beberapa perhiasan
Percikan bau bau indah memadamkan api diriku
Melupakan semua tentang hidupku dan harapan-harapan
Sampai akhirnya ini berlalu, aku tetap saja lemah

Tak kusangka sekelumit itu lahir bukan dari mana-mana,
Akhirnya kusadari ketegasan diri dan teori mematahkan harapan adalah keputusan terbaik disaat semua kemungkinan berkecamuk

Kusudahi puisi ini, dan ku berharap pada diriku sendiri bahwa kegelisahan adalah hak semua manusia yang menginginkannya

Yogyakarta, 19-September-2019
02:06 WIB