Pendar terselip disela-sela kelam yang ramai berdawai.
Merekah, mengalir dan diampu sayapnya.
Analogi kian bermunculan membawa konteks nan piawai.
Sekeliling yang merebah dan meratap.
Tepian penuh pasir datang dibawa samudera dari ujung yang lain.
Sungguh jauh petualangannya di samudera sana.
Mahkota yang agung dari tepian lautan biru.
Mengokohkan kerlip jingga di ujung barat.
Lagi-lagi gunung mambawa kabar untuk pasir di tepian.
Ku bawakan kertas kecil yang mengenalkan gunung pada tepian. Candunya tepian membawaku kembali padanya, dan pesannya diharapkan sampai ke gunung.
Kubawakan kertas dari tepian kembali ke pengirimnya, diterimanya dengan raut wajah penasaran dan sedikit terbata-bata, beberapa saat dia tampak diam sejenak dan melanjutkan membaca. Segala raut dan rasa berganti di pancarkan tempat indah itu. Sampai akhirnya dia diam lama, menghirup nafas panjang seraya menghembuskan perlahan. Sontak iya berkata dengan nada lemah yang cenderung datar. Ntah apa yang di katakannya, sepenggal yang ku ingat hanyalah gerak-gerik seperti berusaha memperlihatkan bahwa dia masih kokoh, dan siap di datangi orang-orang seperti kita yang ingin mengkhatami diri sendiri
Yogyakarta, Senin 25 Februari 2019, 02:20 WIB