Rabu, 18 September 2019

Mawar


Sayup rindu menekan pilu
Dari arahmu yang tak ku harap
Imajinasi ku menguliti hidupku
Seraya menertawai setiap langkahku

Disudut malam dengan beberapa perhiasan
Percikan bau bau indah memadamkan api diriku
Melupakan semua tentang hidupku dan harapan-harapan
Sampai akhirnya ini berlalu, aku tetap saja lemah

Tak kusangka sekelumit itu lahir bukan dari mana-mana,
Akhirnya kusadari ketegasan diri dan teori mematahkan harapan adalah keputusan terbaik disaat semua kemungkinan berkecamuk

Kusudahi puisi ini, dan ku berharap pada diriku sendiri bahwa kegelisahan adalah hak semua manusia yang menginginkannya

Yogyakarta, 19-September-2019
02:06 WIB

Jumat, 21 Juni 2019

Peneman Rintih


Kota hujan memberikan cerita
Tentang bagaimana hujan datang dan rencana berganti
Apakah dilanjutkan atau menunggu reda
Berpaling di hari lain
Atau mungkin tidak sama sekali
Kota hujan memberi perjuangan, bagi tiap pejuang dengan harapan

Kota hujan memberikan cerita
Cerita hangat dan renyah peneman rintih
Cerita yang akan dan yang lalu
Sebagai penantian yang tak terukur
Berenung dan meyakinkan diri
Untuk melangkah dan meninggalkan

Kota hujan memberikan cerita
Bagaimana ego di kalahkan
Bagaimana hati diarahkan
Tentang rencana yang kadang berbeda
Dengan kenyataan yang ada
Dan warna yang berbeda-beda

Kota hujan memberikan cerita
Tiap rasa yang ada
Bercampur dengannya
Menjadi satu kesatuan yang kompleks
Memberi jawaban kepada para penunggunya
Bahwa hari-hari adalah kejutan
Yang penuh rahasia dan pelajaran

Kota hujan mengajarkan
Untuk berdiam sejenak, menghargai apa yang kita punya

Simpang Empat
Jum'at, 21 Juni 2018 Pukul 16:54 WIB


Minggu, 24 Februari 2019

Kertas Kecil


Pendar terselip disela-sela kelam yang ramai berdawai.
Merekah, mengalir dan diampu sayapnya.
Analogi kian bermunculan membawa konteks nan piawai.
Sekeliling yang merebah dan meratap.

Tepian penuh pasir datang dibawa samudera dari ujung yang lain.
Sungguh jauh petualangannya di samudera sana.
Mahkota yang agung dari tepian lautan biru.
Mengokohkan kerlip jingga di ujung barat.

Lagi-lagi gunung mambawa kabar untuk pasir di tepian.
Ku bawakan kertas kecil yang mengenalkan gunung pada tepian. Candunya tepian membawaku kembali padanya, dan pesannya diharapkan sampai ke gunung.
Kubawakan kertas dari tepian kembali ke pengirimnya, diterimanya dengan raut wajah penasaran dan sedikit terbata-bata, beberapa saat dia tampak diam sejenak dan melanjutkan membaca. Segala raut dan rasa berganti di pancarkan tempat indah itu. Sampai akhirnya dia diam lama, menghirup nafas panjang seraya menghembuskan perlahan. Sontak iya berkata dengan nada lemah yang cenderung datar. Ntah apa yang di katakannya, sepenggal yang ku ingat hanyalah gerak-gerik seperti berusaha memperlihatkan bahwa dia masih kokoh, dan siap di datangi orang-orang seperti kita yang ingin mengkhatami diri sendiri

Yogyakarta, Senin 25 Februari 2019, 02:20 WIB